bosan
Jumat, 21 Agustus 2009
diam, bosan ya? bila tidak ada yang bisa kita ajak bicara. atau saat tak ada yang matanya menatap kita dengan penuh makna. atau bahkan saat kita melihat dedaunan di pohon yang diam tak menari. lalu kita hanya bangun dan lalu tidur lagi dan lalu bangun lagi, begitu seterusnya.
diam, aku ingin tersenyum dan tertawa. lalu aku tersenyum padamu dalam wujud layar laptop di kesendirianku. orang pasti pikir aku sudah gila. tapi tidak, karena aku masih menyadari, bahkan mungkin saat hanya hitam atau putih yang terlihat, masih ada begitu banyak hal yang patut disyukuri.
0 comments
01:50
Puisi Kanak-kanak Palestina
Selasa, 10 Februari 2009
ayam punya rumah
rumahnya rumah yang indah
kelinci punya rumah
rumahnya.. lubang di dalam tanah
kuda punya rumah
rumahnya sangat indah
seindah lautan dan samudra
kucing gemar berkeliaran, sepanjang jalan
tapi seliar-liarnya kucing
dia punya rumah juga yang dibanggakan
burung punya rumah
nama rumahnya sarang burung yang indah
setiap makhluk punya rumah dan kampung halaman
karena rumah itu di kampung halaman
adalah tempat orang.. mendapat keteduhan yang damai, yang bahagia
orang palestina, tidak berumah
tidak berkampung halaman
kemah dan bangunan yang didiaminya kini
bukan rumahnya sendiri
bukan kampung halamannya sendiri
di mana rumah orang palestina?
di mana kampung halaman orang palestina
di PALESTINA
tapi.. sekarang.. dia.. tidak tinggal di sana
kampung halaman.. orang palestina..
dirampas.. musuhnya
siapa musuh.. orang palestina?
adalah.. orang.. yang.. merampas..
kampung halamannya
bagaimana cara.. orang palestina.. mendapatkan lagi..
rumahnya sendiri?
hanya dengan senjata
orang palestina bisa
mendapatkan rumahnya
dan kampung halamannya
kembali...
orang palestina akan pulang kampung
bagi orang palestina
kampung halamannya
adalah punya mereka!
diterjemahkan oleh Taufik Ismail
dari buku kanak-kanak bergambar (tanpa nama)
**
**
Label: puisi
0 comments
02:24
tidak boleh rindu
Senin, 19 Januari 2009
aku, rindu.
dia, terasa begitu jauh.
hanya bisa kupandangi di tempat yang mungkin tak akan pernah bisa kugapai.
tidak boleh,
diam.
tidak boleh rindu.
**
**
Label: diam
0 comments
09:36
menunggu
Kamis, 15 Januari 2009
mengapa? kalian selalu merasa, kesulitan menghubungi Tuhan?
merasa, harus menjadi orang yang banyak pulsa, untuk bisa meneleponNya?
atau, harus menghubungi sekretarisnya, untuk bisa menjumpaiNya?
bahkan, harus banyak amal dulu, untuk bisa menghadapNya?
aku mengira, Dia ada di sana. menunggu kita, untuk menghampiriNya. atau mungkin, sekedar menoleh padaNya. karena seringkali, kita lupa kalau Dia ada. mungkin.
Dia bahkan tak pernah peduli, kita punya handphone atau tidak, untuk bisa berbicara padaNya. atau harus menunggu lama, menanti jawabanNya?
bahkan bila kau analogikan pulsa itu dengan amalmu, Tuhan tidak pernah punya sifat belagu.
karena kapanpun kita menoleh padaNya, kapanpun kita menghampiriNya, miskin, kaya, tampan, atau buruk rupa, bahkan, dengan jiwa raga berlumuran dosa, Dia akan tetap ada di sana. menunggu. setiap waktu. selalu.
**
untuk seorang anak kecil, yang berotak besar, bersemangat besar, dan yang paling penting, berhati besar. i love you.
**
**
Label: prosa
0 comments
21:23
semut
diam, aku ingin bercerita. suatu hari, yang cerah pasti, aku pergi ke rumah kakak. kami saling bercerita, bercengkrama, dan akur tak seperti biasanya. tak lama, entah mengapa, aku lupa, kita semua memutuskan untuk pergi ke garasi. dan semua kaget sekali. ada serombongan semut, banyak sekali. mereka menyebar, sama sekali bukan berbaris rapi.
kakak: ya ampuuun, banyak amat semutnyaaa.. ambil baygon!
aku: eh, eh, biar aja, nanti juga pergi sendiri, dia pindah rumah, mungkin
kakak: iya, itu dia! pindah ke dalem rumah, atau ke dalem mobil. ini gak bisa dibiarin!
kakak masuk ke dalam rumah. saat dia keluar lagi, ditangannya sudah tergenggam kaleng baygon warna hijau. tak lama, terdengar suara. aku, memalingkan muka.
sssssssssshhhhh....
bau baygon mengudara. andai aku dapat mendengar jeritan mereka. nafas mereka yang satu-satu dan lalu hilang. atau, entahlah.
kupalingkan wajah perlahan. mereka semua mati. terbujur, kaku.
diam, kadang kita begitu. menjadi semut, atau menjadi kakak.
entahlah siapa yang salah. aku? atau kau? yang pasti, kau baru saja menyemprotkan baygon, tepat ke wajahku.
**
**
Label: diam
0 comments
20:35
kau dan palestina
Minggu, 11 Januari 2009
dua hal yang aku rapalkan sambil bercucuran air mata dalam doa akhir-akhir ini.
kau, dan palestina.
**
**
Label: prosa
0 comments
19:24
ocean
wanita itu berdiri di tebing yang tinggi. tebing yang terjal dan sangat tinggi. menatap kehijauan dalamnya kelam lautan luas yang menganga di bawahnya. yang tersenyum, atau mungkin menyeringai. dalam sepoi-sepoi angin laut, menanti tubuh wanita yang rapuh jatuh kedalam pelukannya. tersedot ke dalam rahasia bumi dan hilang, selamanya.
atau bahkan kapal-kapal itu. yang nahkodanya berwajah tampan dan manis atau mungkin buruk dan bengis. melotot dengan buasnya nafsu dan basahnya air liur yang menetes menyebarkan aromanya yang bau. mengapung di kulit air, seraya menanti pecahnya sang lautan yang memeluk remuk tubuh wanita yang rapuh jatuh ke dalam pelukannya. dalam kepala para nahkoda di atas kapal-kapal itu, adalah terjun dan merengkuh tubuh rapuhnya untuk disantap tulang daging dan darahnya dalam ganasnya badai lautan yang murka akan telah diambilnya sang wanita dari jantung terdalam rahasia bumi yang semakin lama semakin hampa.
namun angin yang halus, dapat merasakan gemetar getar bulu lembut yang takut, rapuh, atau malah mungkin saking beraninya menentukan nadi nasibnya sendiri, di atas kulitnya yang tipis dan bening. basah, namun bukan keringat gelisah, melainkan air mata sedih rindu dan cinta yang hanya ada di dalam dongeng-dongeng bualan hatinya semata. bahkan angin yang halus, dapat merasakan letihnya mata yang nyaris menutup menyatukan harapan dan keputus asaan yang seakan di antara keduanya tiada batasnya.
sampai pada saat tubuh ringannya akhirnya juga melayang di udara yang diam, sekonyong-konyong datanglah sebongkah awan yang super lembutnya, menyongsong tubuh lemah yang pasrah, terpeluk dalam bongkah-bongkahnya. putih namun ranum. basah namun hangat. hampa udara namun padat cinta. tepat disaat mata harapan dan keputus asaan itu menutup perlahan, dan akhirnya tertidur dalam indahnya mimpi nyata dalam balutan kenyamanan, diterbangkan sang awan perkasa, melalui jalan di langit langit dunia, menuju surga.
januari 2007
Label: prosa
0 comments
19:17